Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali menggelar salat Jumat pada 19 September 2025 di aula utama yang dihadiri jamaah mukminin dan mukminat. Khutbah Jumat disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam khutbah kali ini, Syaikh Sharifani melanjutkan rangkaian pembahasan tentang kunci keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan misi dakwah, dengan menyoroti sifat kesembilan: kejujuran.

Beliau mengawali khutbah dengan mengingatkan bahwa pada minggu-minggu sebelumnya telah dibahas dua kunci utama keberhasilan Rasulullah SAW, yakni program dakwah yang jelas serta metode dan karakter yang kokoh. Berdasarkan Surah Ali Imran ayat 159, telah dijelaskan delapan sifat Rasulullah SAW: penuh kasih sayang, menjadikan Allah SWT sebagai poros kehidupan, lemah lembut, memiliki daya tarik, mudah memaafkan, memohonkan ampunan bagi umatnya, bermusyawarah, dan bertekad kuat. Sifat kesembilan yang dibahas kali ini adalah kejujuran.

Menurut beliau, semua amal akan kehilangan makna tanpa kejujuran. Rasulullah SAW melarang segala bentuk kebohongan, bahkan meskipun dimaksudkan untuk tujuan baik. Syaikh Sharifani mengutip Surah At-Taubah ayat 119: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar.” Ia juga menyebut Surah Al-Ma’idah ayat 119, di mana Allah berfirman bahwa pada hari akhir, kejujuran akan menjadi sebab keselamatan dan surga bagi orang-orang yang benar.

Dalam Surah Al-Lail, Allah SWT memerintahkan tiga hal utama: memberi harta di jalan Allah, bertakwa, dan membenarkan adanya balasan terbaik berupa surga. Syaikh Sharifani menegaskan, ukuran kebaikan bukan pada panjangnya rukuk dan sujud, atau banyaknya puasa, melainkan pada kejujuran ucapan serta kesungguhan dalam menunaikan amanat. Rasulullah SAW sendiri menegaskan hal ini dalam hadisnya.

Beliau lalu menyampaikan kisah seorang pemuda di masa Rasulullah SAW yang hanya berjanji untuk tidak berbohong, meski enggan berkomitmen pada kewajiban lain. Namun, dengan meninggalkan kebohongan, jalan kebaikan terbuka baginya. Ia menjadi rajin beribadah karena khawatir dianggap berdusta jika Rasulullah SAW menanyakannya. Kisah lain berasal dari zaman Nabi Musa AS, ketika hujan tidak turun dalam waktu lama. Allah memerintahkan Nabi Musa agar meminta doa seorang pemuda. Pemuda itu berdoa dengan bahasa sederhana seolah berbicara kepada sahabatnya: “Ya Allah, turunkanlah hujan, jangan sakiti orang-orang karena mereka butuh air.” Doa itu dikabulkan Allah SWT karena kejujuran yang terpancar dari hatinya, hingga Nabi Musa pun diingatkan Allah untuk menghargai kejujuran pemuda tersebut.

Imam Ali AS pernah mengatakan bahwa kejujuran adalah pedang Allah, baik di langit maupun di bumi. Syaikh Sharifani menjelaskan bahwa tipu daya, suap, dan kekuatan duniawi tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa kejujuran. Dalam riwayat, disebutkan bahwa setiap umat memiliki seorang siddiq—teladan kejujuran—dan bagi umat Nabi Muhammad SAW, sosok siddiq itu adalah Imam Ali AS.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan tingkatan kejujuran dan kebenaran yang terdiri dari empat maqam. Pertama, tingkatan cinta, yakni mencintai Ahlul Bait meski masih bercampur dosa, seperti seorang anak yang tetap mencintai ayahnya. Kedua, tingkatan syiah, yaitu mentaati sepenuhnya perintah dan larangan Allah, Rasul, dan Ahlul Bait. Dalam sebuah kisah, seorang pria Khurasan mengaku sebagai syiah di hadapan imam maksum, namun menolak ketika diminta masuk ke tungku pembakaran. Hal ini menunjukkan beratnya konsekuensi menjadi syiah sejati.

Ketiga, maqam berserah diri. Tingkatan ini ditandai dengan menerima penuh segala keputusan Allah dan Rasul-Nya tanpa rasa berat. Allah menegaskan hal ini dalam Surah An-Nisa ayat 65: “Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” Contoh tertinggi adalah kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam Surah Ash-Shaffat ayat 103, ketika keduanya berserah diri pada perintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Keempat, maqam tertinggi adalah ketika seseorang bukan hanya pelaku kebenaran, tetapi menjadi kebenaran itu sendiri. Imam Ali AS adalah teladan utama pada tingkat ini. Beliau dikenal sebagai siddiq sejati, simbol kebenaran dan cinta total kepada Allah SWT. Dalam riwayat, Nabi Isa AS menyarankan murid-muridnya untuk bergaul dengan orang yang jika dilihat, akan mengingatkan kepada Allah SWT—dan sifat itu sepenuhnya ada pada diri Imam Ali AS.

Syaikh Mohammad Sharifani menambahkan, ukuran kedekatan dengan Ahlul Bait tidak selalu ditentukan oleh garis keturunan. Rasulullah SAW pernah menyebut Salman al-Farisi sebagai bagian dari Ahlul Bait, karena sifatnya yang jujur dan bertakwa. Maka, siapa pun yang memiliki sifat kejujuran dan ketakwaan, ia dapat disebut sebagai bagian dari Ahlul Bait.

Dalam khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan kembali bahwa salat Jumat adalah syiar agama, sebagaimana salat dan masjid itu sendiri. Jika syiar-syiar ini hilang, maka agama pun kehilangan semaraknya. Karena itu, beliau mengimbau jamaah tidak hanya hadir, tetapi juga mengajak orang lain untuk turut meramaikan salat Jumat, agar menjadi simbol kekompakan pengikut Ahlul Bait.

Menutup khutbah, beliau menyampaikan apresiasi kepada jamaah yang telah hadir memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di ICC. Beliau kemudian mengajak seluruh hadirin untuk ikut serta dalam pawai maulid Nabi yang akan diselenggarakan pada Minggu, 21 September 2025, sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW, manusia agung yang menjadi sumber kebaikan bagi seluruh umat manusia.