“Jibril turun kepada Adam dan berkata, ‘Wahai Adam! Aku ditugaskan supaya engkau memilih salah satu dari tiga pilihan; karena itu pilihlah salah satu di antaranya dan tinggalkan keduanya.’ Adam berkata, ‘Apakah ketiga pilihan itu?’ ‘Akal, rasa malu (haya) dan agama.’ Jawab Jibril.
Adam berkata, ‘Aku memilih akal.’
Kemudian Jibril berkata kepada rasa malu dan agama, ‘Silahkan kalian kembali dan biarkanlah ia.’ ‘Wahai Jibril!’ Kami bertugas untuk menemani di manapun akal berada.’ Timpal keduanya.
‘Kalian tahu sendiri.’ Pungkas Jibril kemudian pergi.”[1]
Sanad Riwayat
Syaikh Kulaini menukil riwayat ini dari Ali bin Muhammad, dari Sahal bin Ziyad, dari Amru bin Usman, dari Mufaddhal bin Saleh, dari Sa’ad bin Thuraif, dari Asbagh bin Nabata, dari Imam Ali As.
Kedudukan dan posisi Syaikh Kulaini jelas bagi setiap orang dan derajatnya witsaqah-nya sangat terang. Ali bin Muhammad salah seorang guru Kulaini dan ia tidak lain Ali bin Muhammad Alan Kulaini. Najasyi berkata tentangnya, “Ali bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Alan Kulaini adalah seorang tsiqah dan terpercaya. Ia terbunuh di Mekah Mukarramah.[2]
Sahal bin Ziyad; meski dilemahkan,[3] namun dalam satu perkataan Syaikh Thusi; ia telah di-tautsiq dan pada akhirya riwayat ini dapat diandalkan.
Amru bin Usman; yang bergelar al-Khazar termasuk sebagai orang tsiqah dan terpercaya.[4]
Mufaddhal bin Saleh; pada sebagian ungkapan Najjasyi[5] dan Ibnu Ghadhairi[6] telah dilemahkan, meski para ulama rijal lainnya tidak berbicara tentangnya.[7]
Sa’ad bin Thuraif; ia adalah salah seorang hakim pemerintahan yang menukil riwayat dari Imam Baqir As dan Imam Shadiq As. Dengan memperhatikan ucapan Najjasyi tentangnya, dapat disimpulkan bahwa validitas riwayatnya bergantung pada beberapa indikasi yang terdapat pada setiap riwayat. Dengan adanya indikasi-indikasi seperti itu, riwayatnya dapat diterima.[8]
Asbagh bin Nabata yang merupakan salah seorang pembesar dan sahabat khusus Imam Ali As dan hidup beberapa setelah kesyahidan Imam Ali As. Ia meriwayatkan surat Malik bin Asytar yang terkenal itu dan wasiat Imam Ali As kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.[9]
Bagaimanapun, riwayat ini disebabkan adanya beberapa orang seperti Sahal bin Ziyad dan Mufadhdhal bin Saleh dalam mata rantai sanad dan dari sisi lainnya terdapat beberapa ulama besar seperti Muhammad Baqir Majlisi Rah melemahkannya.[10]
Petunjuk dan Kandungan Hadis
Boleh jadi kandungan riwayat ini pada sebagian riwayat lainnya telah menyebabkan, meski adanya sebagian orang lemah dalam mata rantai periwayatan riwayat ini, karena kandungannya yang kuat dan mendapat sokongan, riwayat ini disebutkan dalam kitab-kitab hadis seperti al-Kâfi.


