Perhatikan perbedaannya denganmu: Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al Kubro melanjutkan kajian mingguan Kajian Ahlul Bait pada Rabu, 17 September 2025 di Aula ICC Jakarta. Ceramah disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani, Direktur ICC Jakarta, dan diterjemahkan oleh Ustaz Umar Shahab. Kajian kali ini masih membahas nasihat Luqman yang pertama—pembinaan keimanan—dengan penekanan bahwa penguatan keyakinan kepada Allah Swt harus menempatkan Tuhan sebagai kehadiran nyata dalam kehidupan sehingga setiap individu menyadari bahwa Allah senantiasa memantau dan mencatat perbuatannya.
Dalam pemaparan beliau dijelaskan bahwa Al-Qur’an menegaskan keberadaan saksi-saksi yang mencatat amal manusia. Salah satu saksi itu adalah anggota tubuh sendiri. Dalam Surah An-Nur ayat 24 disebutkan: yauma tasy-hadu ‘alaihim alsinatuhum wa aidîhim wa arjuluhum bimâ kânû ya‘malûn — “Pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” Ayat ini menunjukkan bahwa organ tubuh manusia sendiri akan bersaksi di hadapan Allah.
Selanjutnya Surah Fushshilat ayat 21–22 dijelaskan dengan redaksi: wa qâlû lijulûdihim lima syahittum ‘alainâ, qâlû anthaqanallâhulladzî anthaqa kulla syai’iw wa huwa khalaqakum awwala marratiw wa ilaihi turja‘ûn — “Mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab, ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, telah menjadikan kami dapat berbicara. Dialah yang menciptakan kamu pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.’” Dilanjutkan ayat 22: wa mâ kuntum tastatirûna ay yasy-hada ‘alaikum sam‘ukum wa lâ abshârukum wa lâ julûdukum wa lâkin dhanantum annallâha lâ ya‘lamu katsîram mimmâ ta‘malûn — “Kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaranmu, penglihatanmu, dan kulitmu terhadapmu. Bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu kerjakan.” Penegasan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun anggota tubuh manusia yang bisa dilepaskan dari fungsinya sebagai saksi.
Beliau menambahkan bahwa bukan hanya tubuh, tetapi juga waktu—siang dan malam—menjadi saksi atas manusia. Dalam Surah Al-Lail, sumpah Allah atas siang dan malam bukan sekadar penegasan waktu, tetapi menunjukkan peran keduanya sebagai pengawas. Riwayat yang disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani menuturkan bahwa setiap hari akan berkata: “Aku adalah hari baru, aku akan menjadi saksi bagimu, maka lakukanlah pada hari ini kebaikan, karena aku akan mencatat semua yang kamu lakukan.” Dengan demikian, setiap hari adalah saksi hidup bagi amal perbuatan manusia.
Saksi berikutnya adalah bumi. Riwayat dari Imam Ja‘far al-Shadiq a.s. menjelaskan bahwa pada hari Kiamat bumi akan bersaksi atas apa yang dilakukan manusia kepadanya, baik perbuatan itu berupa kebaikan maupun keburukan. Ini menunjukkan bahwa tempat dan ruang tidaklah netral, melainkan menyimpan jejak amal manusia.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menyinggung saksi yang lebih tinggi, yakni para nabi dan imam. Dalam Surah An-Nisa’ ayat 41 disebutkan: fa kaifa idzâ ji’nâ ming kulli ummatim bisyahîdiw wa ji’nâ bika ‘alâ hâ’ulâ’i syahîdâ — “Bagaimanakah (keadaan manusia kelak pada hari Kiamat) jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” Ayat ini menunjukkan kedudukan Rasulullah saw sebagai saksi utama bagi seluruh umat.
Ayat lain yang dibawakan adalah Surah At-Taubah ayat 105: wa quli ‘malû fa sayarallâhu ‘amalakum wa rasûluhû wal-mu’minûn — “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.’” Dalam catatan kajian, ayat ini dikaitkan dengan keyakinan bahwa amal manusia ditampilkan kepada Imam Zaman afs setiap hari Senin dan Kamis.
Kemudian Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sejumlah dalil lain yang menegaskan pengawasan Allah. Dalam Surah An-Nisa’ ayat 1: innallâha kâna ‘alaikum raqîbâ — “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” Dalam Surah Al-Hajj ayat 17: “Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.” Dan Surah Al-Fajr ayat 14: inna rabbaka labil-mirshâd — “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” Semua rujukan ini dipaparkan untuk mempertegas bahwa pengawasan ilahi bersifat menyeluruh dan tidak pernah terputus.
Selain itu, malaikat pencatat amal juga disebut sebagai saksi yang senantiasa hadir. Surah Al-Infithar ayat 10–12 berbunyi: wa inna ‘alaikum laḫâfidhîn, kirâman kâtibîn, ya‘lamûna mâ taf‘alûn — “Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia di sisi Allah dan mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Syaikh Mohammad Sharifani juga menyebutkan malaikat Raqib dan Atid yang bertugas mencatat amal baik dan amal buruk manusia.
Lebih jauh, amal perbuatan manusia itu sendiri akan menjadi saksi. Penjelasan dari Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah disebutkan bahwa amal perbuatan seseorang kelak akan menjelma sebagai makhluk yang akan bersaksi atas dirinya di hari Kiamat. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Qiyamah ayat 14–15: balil-insânu ‘alâ nafsihî bashîrah walau alqâ ma‘âdzîrah — “Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, walaupun dia mengemukakan alasan-alasannya.” Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan keberadaan bashîrah, yaitu daya hati nurani yang mengenal kebenaran dan keburukan.
Untuk memperjelas peran hati nurani, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan sebuah riwayat di masa Rasulullah saw. Ketika seorang sahabat bertanya tentang bagaimana membedakan bekerja sama dalam kebaikan dan dalam keburukan, Nabi menjawab dengan menekankan hati nurani sebagai penentu, karena hati nurani tidak pernah berdusta. Dari sini ditegaskan bahwa sekalipun manusia mencari pembenaran atas perbuatan salah, hati nuraninya tetap mengetahui kebenaran sejati.
Seluruh dalil, ayat, dan riwayat yang dipaparkan Syaikh Mohammad Sharifani ini diposisikan sebagai penafsiran atas nasihat pertama Luqman: jangan menyekutukan Allah. Kehadiran Tuhan harus senantiasa dihadirkan dalam hidup, agar manusia selalu merasa diawasi dan enggan melakukan kejahatan. Beliau mengilustrasikan bahwa apabila seseorang menyadari dirinya berada di ruang penuh pengawasan, ia akan menghindari segala bentuk pelanggaran. Demikian pula, bila kesadaran ini melekat pada masyarakat luas, sebuah negeri tidak lagi bergantung pada aparatur pengawasan semata, karena kesadaran ilahi telah menjadi pengendali perilaku.
Di bagian penutup, beliau mengutip nasihat Imam Khomeini: manusia hidup di alam di mana Tuhan hadir bersama mereka. Karena itu, tidak pantas bagi seorang mukmin melakukan dosa di hadapan Allah. Dengan menanamkan kesadaran pengawasan ilahi, mengaktifkan bashîrah, dan menjadikan amal sehari-hari sebagai wujud penghambaan, maka kehidupan akan terarah kepada kebaikan dan keberkahan.


